Rabu, 04 April 2012

Nonton The Raid



Beberapa waktu yang lalu gue berkesempatan nonton film the raid yang lagi rame diomongin. Awalnya gue juga gak ngerti apa arti judul film ini, tapi pas gue gugel ternyata judul awal film ini serangan maut. Jadi gue rasa artinya gak jauh-jauh amat dari kata-kata itu. Ceritanya tentang apa gue juga gak tau (yang elo tau apa sih er?) soalnya pas lagi gugel tiba-tiba mati lampu jadi gak sempet baca lagi. Tapi dari twit mahluk-mahluk yang gue follow gue menyimpulkan bahwa di film ini ada banyak adegan berantemnya dan (katanya) film ini keren abis.

Berawal dari rencana nonton ber-enam dan dilanjut dengan acara makan-makan *mumpung ada yang mau nraktir* *mental anak kos*, akhirnya cuma tiga cewek semi pengangguran (gue, adek gue, n seorang temen yang gak mau disebutin identitasnya) yang berangkat dengan perjanjian bayar masing-masing dan tanpa acara makan-makan soalnya yang mau nraktir gak bisa pergi *kecewa*.
Film dibuka dengan adegan solat subuh dan sit up Rama (Iko Uwais) yang menggoda. Gue sempet kepikiran jangan2  gue salah beli tiket film Sang Pencerah. Eh, tapi Sang Pencerah kan gak mungkin pake acara sit up, yang maen juga lukman sardi. Gue baru lega waktu iko uwais nongol lagi dengan seragam SWAT. *elus dada* *dada iko uwais* *dikeplak penonton*.

Doi pamitan mau berangkat tugas ke istrinya yang masih tidur. Dia lagi hamil. (kok istrinya gak dibangunin buat solat subuh berjamaah ya? Kan pahalanya lebih banyak) dialognya juga kaku, kayak Manohara gitu. *banyak komentar* *ditoyor*.    

Cerita berlanjut. Ada satu pasukan (gue yakin gak lebih dari 20 orang) didalam mobil yang lagi di briefing sama pimpinannya (Joe Taslim). Tampangnya mirip sama Daniel Mananta. Dialog masih kaku, ada juga anggota pasukan yang gemeteran. Ternyata mereka mau menyerang sebuah apartemen yang berisi penjahat-penjahat yang tak tersentuh aparat. Dari situ adegan kekerasan sudah dimulai. Ada om Ray Sahetapy yang nembakin kepala musuh tanpa ekspresi, sampe adegan mukul kepala pake palu karena abisan peluru *nahan napas*.

Awalnya, penyerangan tampak terkendali sampai ada anak kecil yang ditembak di salah satu lantai. Dari situ baru ketauan kalo ternyata mereka sudah diawasi sejak awal dan mereka sudah dikepung. Tembak-menembak seru terjadi. Segala macem senjata dipake dari senapan, golok, pisau, kapak, tabung gas, kulkas, botol, sampe berantem tangan kosong. Banyak adegan sadis dari awal sampe akhir cerita, dan gue perhatiin sepanjang adegan laga posisi standar penonton yang rata2 cewek adalah kedua kaki ditekuk di atas kursi, satu tangan pegang hape or meluk kaki, dan satu tangan membekap mulut sementara mata melotot ke layar bioskop. Adek gue malah sempet mual-mual sementara tangannya sibuk narik-narik jilbab gue buat ngumpet. Gue juga sempet ditabokin karna ngajak dia nonton film berdarah-darah.

Di film ini juga ada tokoh bernama Mad Dog yang mirip banget sama Ki Joko Bodo. Penampakan santai, tapi berantemnya juara. Keliatannya nyawanya banyak. Favorit gue waktu Mad Dog berantem sama Iko uwais n Doni alamsyah. Kayak gak ada capek-capeknya mereka berantem sementara penonton  cuma bisa teriak2 dan nahan napas. Meskipun ini film laga, tapi di film ini juga diselipin kata-kata absurd yang bikin ngakak semacam “jangan tipu-tipu beta, kalo marah beta menggila" *penonton ketawa*

Secara keseluruhan, film ini emang keren. Sayangnya waktu gue nonton ada beberapa keluarga yang bawa-bawa anak balita. Padahal harusnya ini film 17 tahun ke atas, karna banyak adegan tujes-tujesan yang gak layak ditonton balita. Menurut gue film ini juga gak baik ditonton sama orang2 yang lagi galau karna habis diputusin, secara segala macam bentuk penyiksaan untuk sang mantan yang bisa ditiru bertaburan sepanjang film berlangsung. Buat gue siy rugi banget kalo gak nonton film ini :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar